Bismillaah…

30.07.17
Walimatul ‘urs atau pesta pernikahan. Pesta pernikahan yang sebenernya. Yang sesuai dengan contoh Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Pesta yang di dalamnya tidak ada campur baur. Yap. Pesta yang dipisah…

Pembatas

Ini kali keempat saya menghadiri pesta seperti ini. 3 diadakan di gedung yang sama. Dan 1nya diadakan di rumah.

Aneh? Hmm… waktu awal2 sih aneh. Pertama kalinya saya menghadiri pesta seperti ini ketika saya SMA. Pernikahan murabbi saya. Guru tarbiyah…

Selebihnya? Teman SMA dan teman sekampus. Teman sefakultas? Belum ada. Hehehhee ✌✌✌ (me. InsyaAllaah 🙈🙈🙈)

Nah, kali ini yang menikah adalah saudari saya. Anak FKG. Junior! Ju.ni.or (ga perlu dikapital deh, kesan galaunya terlalu kelihatan entar)

Dari akad hingga resepsi. Tapi ga sampai resepsi selasai saya di situ. Apa aja yang khas dari pernikahan yang dipisah seperti ini?

1. Ada kain pembatas

Ya Iyalaaaah ya, hehe. Kain pembatas yang digunanakan untuk membatasi mana area wanita mana area pria. Kain pembatas ini bakal dijaga oleh panitia. Untuk menjaga sekiranya ada bapak2 yang kangen banget sama istrinya. Nggak, maksud saya, ada bapak yang pengen jemput istrinya buat pulang bareng atau pengen makan sepiring berdua #enggak deng

Pokoknya kain ini sebagai hijab. Soalnya, tamu mempelai kemungkinan besar ada yang berniqob, jadilah kemungkinan2 yang ga diharapkan kudu diminimalisir

2. Panitia

Naaah, dari walimatul ‘urs panitia sangat penting. Panitia sebenernya bahasa sederhana dari bahasa keren EO. Hehe, yap… panitia ini akan stand by dari depan. Mengarahkan tamu –yang sebagian besar belum paham- yang mungkin bingung. Ayah ke mana, ibu ke mana, anak akan dititip di siapa. Hehe.. becanda. Kebanyakan anak2 bakal ikut ibu kok.

Panitia ini juga bakal menjadi penjaga buku tamu, penjaga hijab, standby di tempat makan, dan mengipas-ngipas pengantin (yg terakhir becanda ✌). Panitia ini biasanya temen pengantin, jadi udah kenal keluarga pengantin. Daaan panitia bakal pakai jilbab seragam (which is today i use same colour with them,dan tamu sempat nanya, saya panitia atau tamu. Omo)

3. Nasyid

Nah, rebana itu dihalalkan pada keadaan2 tertentu. Salah satunya pesta pernikahan. Jadilah, pada walimatul ‘urs bakal ada nasyid. Bukan  electone dengan biduan yang menyayikan lirik apalah dengan goyangan subhanallaah

4. Nasehat Pernikahan

Ini adalah acara kedua yang kudu ada selain akad nikah. #lah. Hehehe akad ya wajib lah. (Makanya ga saya jadikan poin akad itu. Soalnya itu mah wajib). Nah, nasehat pernikahan ini dibawain ustadz. Memberi nasehat ke pengantin dan sebagai pengingat bagi tamu yang telah menikah dan sebagai penyemangat buat nikah bagi tamu yang belum (ngacung).

Tadi nasehatnya tentang berbuat baik ke istri dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah.

5. No standing party 

Ini seharusnya. Tapiiii di gedung kebanyakan kursinya dibatasin atau malah terbatas. Jadi inget, waktu kakak saya nikah, kami request penambahan kursi. Tapi, sebagai konsekuensinya, jumlah pondokan makanan harus dikurangin. Ya sudahlah, pondokan dikurangin daripada tamu makan berdiri kan.

Nah, ini beberapa yang unik dari walimatul ‘urs. Di walimatul ‘urs itu bakal sering banget lihat bapak-bapak ngintip, sebenernya bukan ngintip. Soalnya sekepalanya muncul dibalik hijab. Nyariin istrinya. Ga jarang juga hijab dijadiin main cilukba sama bocah-bocah pengrame suasana.

Namanya berdakwah ya bakal ada juga tantangannya. Selama empat kali datang ke acara seperti ini, empat kali pula saya mendengar ibu-ibu yang ngeluh karena harus dipisahin sama suaminya. Ya gitu deh… pedih perih berdakwah

Enaknya hadir ke acara beginian adalah…. bisa make up hahahhaa.. kan ga kelihatan sama non mahram. Hoho… (padahal makeupnya cuma pakai eyeliner dan maskara)

Itu dulu. Semoga yang ngetik soon bisa nyusul. Tahun depan semoga. Aamiin. Dengan konsep yang sama. Aamiin

*natasha, nunggu antrian 2 jam. 30.07 17. 13.24

Advertisements