Bismillaah…

Pomalaa. Saya kembali lagi ke sini. Setelah setahun yang lalu saya sempat di sini

Saya lahir dan sempat merasakan masa kecil di kecamatan kecil ini, sebelum akhirnya pindah pulau mengikuti papa yang pindah tugas dan selanjutnya mengenyam pendidikan di kota besar. Makassar

Papa saya sempat bertugas di sini. 3 tahun sepertinya, yang didahului oleh mama yang sebelumnya menjadi guru dan akhirnya terangkat pns di tempat ini kemudian melahirkan 2 anaknya di sini. Saya dan si bungsu.

Siapa sangka, saya ternyata balik lagi ke sini. Sebagai pekerja di salah satu RS yang ada di unit bisnis ini. Di sini, di pomalaa! Hehe…

Pomalaa ini nama salah satu kecamatan di sulawesi tenggara. Dalam kecamatan ini, ada sebuah tempat yang dinamakan kawasan kompleks PT Antam. Tempatnya kecil tapi bagai monopoli besar di mata saya. Betapa tidak, kompleks ini sangat tertata. Perumahannya rapih. Layaknya virtual village selain kompleks perumahan, ada rumah sakit, sekolah (dari TK hingga SMA), tempat beribadah, sarana bermain (dari lapangan tenis, basket, badminton, bola, futsal hingga lapangan golf), pantai privat, kantor, dan sumber penghasilan utama. Pabrik! Hehe

Di sini, listrik dan air FREE. Saya senang tinggal di sini ya salah satunya karena itu. Rumah dinas saya betada di depan RS. Jalan kaki sedikit, sampai lah. Alhamdulillaah yg namanya air tidak mengalir belum pernah kami rasakan. Dan semoga seperti itu. Pemadaman listrik terkadang terjadi. Tetapi, akan ada pemberitahuan jauh sebelum pemadaman dilakukan. 

Akses ke kota besar pun mudah. Hanya 45 menit menggunakan pesawat ATR sudah sampai ke makassar. Lebih lama perjalanan bandara makassar ke rumah saya di makassar daripada perjalanan saya dari pomalaa ke makassar. Hehe… tiketpun termasuk terjangkau. IDR 400-500rb untuk sekali penerbangan. Alhamdulillaah. Maka nikmat Tuhan manakah yg engkau dustakan wi?

Saya nyaman di sini. Dan semoga seterusnya bisa nyaman sampai akhirnya bisa melanjutkan ppds. Aamiin. Walaupun terkadang saya sesekali tergoda untuk keluar dari zona nyaman di sini, mencari pengalaman lebih jauh dan tentu saja lebih berpenghasilan daripada di sini. Tapi tiap kali saya gundah. Mama di seberang pasti mengingatkan lagi bahwa “mereka yang tak pandai bersyukur tak akan pernah merasa cukup” hehe.. thanks mom. Semoga Allaah menjaga mama dan papa di makassar dan di jakarta. Aamiin

Saya hampir tak pernah bercita-cita akan berkarir di pomalaa. Apalagi sampai mendapat jodoh di sini *ups, maaf jadi curcol. Hehe…, papa saya keturunan sulawesi yang tentu saja terkenal dengan sifat rantaunya. Nenek moyangku pun pelaut. Siapa yang tak kenal perahu phinisi kebanggaan suku sulawesi? Tapiii.. sepertinya darah rantau tak mau dialirkan papa ke anak perempuannya. Papa sendiri masuk ke ranah perantau, saat lulus dokter beliau langsung mengais rejeki di jakarta, kemudian sempat menaruh stetoskop di meja maluku. Nah anaknya? Di dekat2 rumah saja mainnya… hehhr

Keluarga papa sebagian besar tinggal di sini, jadi wajar saja kalau akhirnya saya berlabuh di sini. Memberikan sedikit pengabdian di tanah kelahiran saya, adek saya, dan papa sendiri. Iya! Papa saya lahir di sini juga, kakek nenek saya domisili di sini. Ya wajar saja, sebagian besar pasien saya adalah “keluarga”. Hohoho

Sudah setahun lebih 2 bulan saya di sini. Semoga bisa betah. Semoga bisa lancar semuanya. Pendidikan, karir, dan Jodoh! Haha..

Akhirat dan dunia. Semoga bisa saya tambah di pomalaa. Tempat lahir dan tempat kerja saya. Tempat tinggal saya sekarang! Aamiin
-Pomalaa. Kamar dinas. 02 Januari 2017. 4 rabiul tsani 1438 H-

Advertisements